Sinetwit MAF1453 Episode 17 : "An Endurance Test"



Sinetwit MAF1453 Episode 17 : "An Endurance Test"

1. Tenda-tenda berkembang bagai jamur di musim hujan, memenuhi pandangan dan membuat takjub setiap mata yang melihatnya

2. Al-liwa, bendera putih bertuliskan lafaz syahadat berkibar anggun di tengah-tengah kerumunan pasukan, menandai kepemimpinan

3. Di bawah bendera itu, Sultan Mehmed sedang mengatur pasukannya, menempatkan semua pada posisi yang diinginkannya

 
sultan mehmed II dibawah bendera al-liwa mengorganisir pasukan


4. Disaat yang sama, utusan dikirimkan kepada kaisar Konstantinopel membawa 3 pilihan; menyerah, membayar jizyah, atau diperangi

5. Tentu Kaisar Constantine tidak meu memilih menyerahkan kota atau membayar jizyah, pilihan terakhirlah yang dipilihnya

6. Meriam dibariskan, pasukan ifanteri disiagakan. Sultan Mehmed tak mau mengambil risiko, artileri yang akan memulai serangan

7. 6 April 1453, ledakan meriam pertama, gaungnya terdengar di penjuru kota dilanjutkan dengan hancurnya tembok yang dihantam

8. Peluru demi peluru dimuntahkan dan menghantam tembok, ada yang menghancurkan sebagian kecil ada pula bagian yang besar
 

6 april meriam pertama ditembakkan

9. Dua hari berturut-turut tanpa henti meriam ditembakkan, dan pada waktu yang sama, seluruh pasukan bertahan memperbaikinya

10. Setiap lubang yang diakibatkan peluru meriam ditambal dan disemen, bagian2 lain dipadati dengan batu, tanah, apapun itu

11. Sementara itu, Sultan Mehmed juga memerintahkan pasukannya menimbun parit yg mengelilingi kota agar bisa dilalui infanteri

12. Ramai yang terpanah tatkala menimbun parit, namun kaum Muslim tak menyerah. Batu, kayu dan material apapun dimasukkan kedalam

13. Hari demi hari pasukan Muslim membombardir tembok Konstantinopel, namun semangat pasukan bertahan pun tak bisa dianggap kecil

14. Tatkala kaisar menyadari bahaya sesungguhnnya, maka ia segera mengirimkan utusan pada Mehmed, menawarkan emas dan iming2 lain

15. Balasan Mehmed sangat jelas, resousinya tak akan dapat disuap atau dibeli. Penaklukkan ini bukan masalah harta tapi keimanan

16. "Sampaikan kepadanya, hendaknya kaisar kalian menyerahkan Konstantinopel kepadaku" jawabnya jelas tanpa keraguan

17. "Aku bersumpah demi Allah, pasukanku tidak akan melakukan tindakan jahat apapun kepada kalian, baik jiwa mapupun harta"

18. Kaisar tentu saja menolak, ia tidak ingin ribuan tahun kekuasaan keluarganya di Konstantinopel pupus di masanya

19. Peperangan dilanjutkan, 18 Maret 1453, lubang yang cukup untuk pasukan infanteri tercipta, maka dimulailah serangan darat

20. Gema takbir dikumandangkan 2 jam lepas maghrib, dalam kegelapan pasukan Muslim merangsek garis pertahanan musuh

21. Ditemani musik pembangkit semangat dari para mehter, kaum Muslim mengerahkan segenap upaya mengalahkan musuh-musuh mereka

22. Diterangi cahaya obor, pedang berdentang, teriakan dan rintihan memenuhi udara, perang sengit berlangsung di depan tembok

23. 6 jam berlalu, ternyata kaum Muslim berhasil dipukul mundur, keuntungan ada pada musuh yang lebih tinggi posisinya

24. Setelah dihitung, 18.000 prajurit Muslim syahid malam itu sementara Konstantinopel hanya kehilangan 200 personel

25. Harapan baru terbit bagi penduduk Konstantinopel dan militernya, mereka bisa memenangkan pertempuran ini!

26. Sebaliknya, bagi kaum Muslim ini adalah kekalahan telak. Tenda2 medis penuh dengan yang terluka, lebih lagi yang meninggal

27. Pemandangan di tenda medis itu benar2 mengerikan, ada yang terluka bakar, kehilangan salah satu atau lebih anggota tubuh

28. Bagi Mehmed, ini adalah kejadian yang menampar wajahnya, serangannya terlalu prematur dan dipukul telak pada fondasinya

29. Keadaan buruk bagi, kaum Muslim tidak berhenti sampai disana, ujian dari Allah bagi kaum Muslim belum menemui kulminasinya

30. Pada 19 April 1453 4 buah galleon yang berukuran besar membawa bantuan senjata, logistik dan prajurit terlihat oleh Muslim
 

galleon (kapal layar) berukuran besar (10-12x) daripada kapal dayung Muslim

31. Rupanya mereka berhasil melalui Galipoli yang tak dijaga, dan sebentar lagi mereka dapat berlabuh di Konstantinopel

32. Saat pengawas laut melihat 4 buah kapal berbendera Genoa, situasi panyik melanda, kabar langsung disampaikan pada sang Sultan

33. Mehmed segera memacu kudanya menuju Double Columns, tempat armada lait berkumpul, memberikan perintah pada jendral Baltaoghlu

34. "Wahai kapten, hanya ada 2 pilihan untukmu, apakah engkau menguasai kapal2 itu ataukah menenggelamkannya!" tegas Mehmed

35. "Atau jika engkau tak dapat melakukannya, maka jangan kembali dalam keadaan hidup!" Mehmed menekankan sekali lagi

36. Ini adalah saat krusial, bila saja Konstantinopel mendapatkan bantuan itu, maka 2 kerugian tertimpa pada Muslim

37. Begitupun 2 keuntungan akan didapatkan Konstantinopel, logistik dan prajurit, dan yang kedua moral pasukan bertahan akan naik

38. Mengetahui kepentingan perintah ini, Baltaoghlu segera memacu kapal-kapal dayung tercepatnya untuk mencegat kapal bantuan

39. Kedua kapal bertemu di acropolis, ujung tanah Konstantinopel. Baltaoghlu berteriak menyemangati pasukan agar mengepung kapal

40. Dalam sekejap, kapal kaum Muslim mengerubuti 4 kapal itu, mencoba memanjat kapal yang besarnya 10x lipat dari kapal Muslim

41. Ukuran kapal yang lebih kecil membuat kapal kaum Muslim laksana "kayu yang terapung diantara 4 menara"
 
kapal Muslim yang sangat kecil dibandingkan galleon genoa >>


42. Awak kapal musuh pun tak kalah tangkas, mereka melemparkan batu, tombak, dan panah dari atas dibantu gravitasi yang mematikan

43. Beberapa jam berlalu, ribuan penonton di tembok Konstantinopel dan pasukan Utsmani di seberangnya menyaksikan pertaruhan itu

44. Sultan Mehmed menyaksikan dalam keheningan, kedua pihak memanjatkan doa pada Tuhan masing-masing, menanti cemas hasilnya

45. Sementara waktu berlanjut, tampaknya kapal2 besar itu mulai lelah, bagaimanapun jumlah sangat berpengaruh besar saat itu

46. Baltaoghlu bertakbir, bersemangat karena dia akan segera memenangkan pertempuran dan mencegah bantuan masuk ke Konstantinopel

47. Saat itu, ujian datang. Tiba2 angin selatan berhembus memberi kekuatan pada layar galleon2 raksasa, menggerakannya maju

48. Maka kawanan 4 kapal itu menerobos dan menabrak banyak kapal hingga karam, seiring dengan sorak prajurit dari atas kapal

49. Kegeraman sultan memuncak, ia memberikan perintah hingga kudanya masuk ke lautan, berteriak "Wahai kapten! WAHAI KAPTEN!"
 
sultan mehmed II menyeru kaptennya hingga kudanya masuk ke lautan dan jubahnya basah oleh air laut


50. Dentang lonceng gereja mengantarkan 4 kapal bantuan memasuki garis aman, pasukan Muslim tak kuasa mengejar mereka lagi

51. Sorak sorai militer Konstantinopel membahana luas, menyambut pahlawan2 mereka, bersamaan dengan itu kaum Muslim terdiam

52. Sedangkan Sultan Mehmed terpaku. Tak berucap sepatah kata pun. Ia berbalik lalu meninggalkan lautan dengan kudanya"

53. Culdesac..


        


0 komentar:

Posting Komentar

Artikel Terpopuler